~Tidak ada yang Sempurna~
Selasa, November 10, 2009
09:16


Apa kau pernah mengharapkan sesuatu tetapi hal itu tidak tersampaikan?
Apa kau pernah mendapatkan sesuatu yang bahkan kau memimpikannya pun tidak?
Apa kau pernah kecewa dengan sesuatu yang bukan kehendakmu tapi mau tak mau kau harus menerimanya?
Apa semua itu disebut ketidaksempurnaan?

Cerita pribadi aja sih sebetulnya. Mungkin bisa dibilang ‘another unek-unek’ aja kali ya. Monggo kalau mau disimak, tapi kalau enggak ya di close aja situsnya ^^

Dulu, aku pikir, hidup itu sempurna. Semua serba ada, semua yang aku mau selalu ada—tapi disitulah letak ketidaksempurnaannya. Kenapa ? Pada saat itu, aku diuji oleh Allah dengan harta yang berlimpah. Lalu, bagaimana dengan sekarang? Jawabannya sama—tapi kali ini dengan hal yang berbeda.

Oke, jika ga ngeh atau ga mudeng? baca aja terus, ini Cuma unek-unek aja kok.

Semua orang itu selalu memiliki masalahnya sendiri—bahkan terkadang mereka dan tidak terkecuali saya menganggap masalah yang sedang dihadapinya adalah masalah yang paling berat daripada masalah orang lain. Belakangan atau bisa dibilang beberapa minggu terakhir ini, aku banyak memperhatikan orang-orang disekitar aku. Banyak diantara mereka sepintas hidupnya tampak sempurna, tapi ternyata tidak. Dibalik semua itu, dibalik tertawa itu, dibalik senyuman hangat itu—beberapa diantara mereka menangis, menyimpan luka bahkan menyimpan masalah yang cukup berat. Disitulah letak tidak sempurnanya. Kemudian aku kembali memperhatikan beberapa diantara mereka, ada yang secara fisik normal, tapi dia tidak bahagia dengan hidupnya, ada pula yang secara fisik kurang, tapi aku melihat dan mendengar senyum dan tawa dari dia. Disinilah letak kebesaran Allah SWT. Masalah memang selalu ada, tapi manusia tidak bodoh, manusia memiliki akal untuk menghadapi masalah itu.

Mungkin Cuma satu kunci-nya, tapi mungkin bisa lebih. Sejauh ini, aku baru menemukan satu kunci-nya.

Rasa syukur kepada Allah SWT.

Kenapa?

Dengan bersyukur itu, hidup menjadi tampak sempurna. Jika secara teori memang gampang menulisnya, gampang mengucapkannya, lalu bagaimana prakteknya? Susah. –memang susah, karena manusia itu tidak akan pernah merasa puas, selalu merasa ada yang kurang selalu saja ada masalah dan ujung-ujungnya tidak merasa puas. Sebagai contohnya, mungkin keluarga aku sendiri. Saat dulu aku masih menjadi mahasiswa, aku berpikir, dengan mendapat gelar sarjana saja udah cukup dan hidupku pasti lebih baik—ternyata tidak. Ternyata aku harus mencari kerja dan memiliki tanggung jawab untuk keluargaku, terlebih orang tua. Kemudian Babeh, kami pikir dengan gelar Doctoral yang telah dicapai, semua sudah selesai—semua bisa kembali menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Tapi, cobaan itu selalu datang, dan kami terus merasa tidak puas. Perjuangan kami masih panjang ternyata, masih harus menghadapi dan menyelesaikan masalah yang selalu datang tiap waktu.

Disitulah, kata ‘Syukur’ perlu diterapkan dan memang benar, ‘Tidak Sempurna’ selalu ada. Sempurna hanyalah milik Allah SWT semata. Dilihat dari luar, keluarga kami tampak baik-baik saja, aman, tentram, serba kecukupan, tapi dibalik semua itu, kami sedang berusaha 'menutup lubang dengan menggali lubang yang lain’ untuk mempertahankan hidup. Mungkin, bukan keluarga aku saja yang mengalami hal seperti ini, seluruh umat manusia di dunia juga pasti mengalami hal-hal seperti ini, tapi mungkin dengan permasalahan yang lain, dan pasti setiap waktu selalu ada.

Saat ini, dengan segala hal yang aku alami, aku mencoba untuk menerapkan rasa syukur dalam hidupku, dengan segala ketidaksempurnaan yang aku miliki, dan kodrat aku sebagai manusia yang tentunya memiliki kekurangan dan rasa tidak puas dengan hidup aku, aku mencoba—aku terus mencoba menjalaninya dengan sabar dan ikhlas, karena aku yakin, Allah pasti memiliki tujuan yang terbaik dalam hidup aku dan tujuan-tujuan serta hikmah terbaik itu mungkin belum datang saat ini, kelak semua itu pasti bisa dicapai.

Allah memberikan kelebihan dan kekurangan itu pasti memiliki tujuan, dan ketidaksempurnaan dalam hidup itu pasti ada hikmah dibaliknya, rasa syukur—sekali lagi, rasa syukur itulah yang mungkin membantu kita untuk lebih menghargai kebesaran Allah, lebih bisa untuk memaknai hidup kita. Susah, senang, tertawa, menangis, kaya, miskin, sempurna, tidak sempurna, bahagia, menderita—kita sendiri yang membuatnya. Hidup bisa dibuat susah, tapi bisa dibuat gampang, tergantung bagaimana orang itu menjalaninya.

Jadi, kita tidak sempurna, selalu saja ada kekurangannya, selalu saja merasa kurang, selalu saja ada hal meski sekecil kerikilpun menjadi ganjalan. Apa yang mungkin kita anggap itu tidak baik, tapi belum pasti di mata Allah itu tidak baik, dan apa yang kita anggap itu baik, belum pasti juga di mata Allah itu baik. Kelebihan dan kekurangan itu selalu ada dalam hidup, baik itu pada diri kita sendiri atau pada orang-orang disekitar kita. Ada baiknya, kita menghargai kelebihan itu dan mengupayakan kekurangan itu menjadi sesuatu yang lebih berguna untuk hidup.

Semoga unek-unek ini bisa lebih menginspirasi hidup aku dan anda untuk lebih bersyukur dan menghargai segala pemberian Allah SWT. Amin. Tetaplah hidup, tetaplah berjuang untuk hidup, dan tetaplah bersemangat dalam hidup. ^^

Label: ,

XOXO;
09:16

♥ send me flower? (2)


~Sumpah! Kangen! >.<~
Sabtu, November 07, 2009
16:34


After Wisuda—

sepi—

Now—

Makin sepi—

Berasa ga ada teman di dunia nyata, dan perlahan teman di dunia maya makin menipis— *lha?*

Lebay kali yak. Tapi ini bener kok, sejak selesai wisuda, aku sibuk dengan dunia baru, yang disebut dengan dunia ‘Cari Kerja’ nyebar lamaran ke perusahaan sana sini, ikut tes, bahkan wawancara pula yang hasilnya—yeah; tidak bisa dibilang me-mu-as-kan. Jadi, memang benar kan, cumlaude bukanlah jaminan. Dengan GPA yang bisa dibilang atasnya-sangat-memuaskan itu, ternyata ga ada jaminan buat cepet dapet kerja, dan saat inilah aku, tenggelam dengan dunia baru itu, dan dampaknya—temanku menghilang; atau lebih tepatnya—

Aku yang menghilang dari dunia mereka—

Aku kangen. Itu yang aku rasakan belakangan ini. Apalagi saat aku buka kembali foto-foto GaJelas jaman kuliah dulu dan SUMPAH! Saya kangen KU-LI-AH! Kangen jadi Mahasiswa lagi, kangen dapet tugas berjibun lagi dan IYAH! SAYA AKUI! Saya KANGEN dengan UTS dan UAS! GOSH— *Peluk-peluk KHS—Plakk*

Guys! Ente semua dimana sekarang ? Sumpah. Aku kangen kalian. Sepi—



Putra! Indra! Johan! Igard! Mardia! Agung! Dian! Main lagi yuk! Nonton bareng lagi yuk!


Hiks.

Masih inget dulu rame-rame main ke BIP, Nonbar, terus makan siang bareng. Cari yang murah tapi kenyang.. Kapan begitu lagi yak.. pengen dah ketemu kalian lagi, main bareng-bareng lagi. Inget juga dulu, Dian ma Putra, sering bawa pilm Dorama, terus nonton bareng sambil makan Cuanki atau Bakso atau Nasi goreng buatan mama. Huff—Kangen T_T

Guys. Kita cari waktu bareng-bareng lagi yuk! Buat ngumpul-ngumpul lagi, buat main lagi yak—

Kapan yak bisa main yang seperti ini lagi ? Kangen—hiks

Label:

XOXO;
16:34

♥ send me flower? (2)


~A new Hope?~
Minggu, Oktober 18, 2009
20:17


Well, lama ga update blog..


Kali ini, mau cerita dikit saja—banyak kalau ga nyadar sudah nulis banyak.


First, let me say Alhamdulillah.. Thanks Allah. Akhirnya, perjuangan aku selama 4 tahun ini terbayarkan sudah. Yeap, akhirnya, aku lulus kuliah dari jurusan Teknik Informatika dengan nilai Cumlaude dan tepat 4 tahun. Bangga? Heum, a little. Gimana ya.. selama 4 tahun itu, bukan murni hasil perjuanganku sendiri..tapi ada beberapa orang atau kelompok atau instansi lain yang membantu aku hingga aku lulus kuliah. Yeap, say thank you so much for them. Setidaknya, aku tidak membebani mereka lagi, gimana enggak ya, selama kuliah 4 tahun itu, aku banyak merepotkan banyak pihak, so sudah saatnya aku membalas budi baik mereka, dan semoga Allah masih memberi ijin aku untuk hidup atau mereka untuk hidup hingga aku bisa membalas budi baik mereka. Amin.

Setelah lulus, pastinya aku menyandang status baru, gelar baru dan suasana baru. Yang tadinya tiap malam atau pagi grubak-grabuk ngerjain tugas, bahkan tugas kelompok bareng temen-temen sampai malam banget, sekarang, banyak nyantainya, kemudian yang tadinya sering ketemu teman dan bersosialisasi, sekarang lebih banyak dirumah, dan aku bisa bantu mama, bantu bisnisnya mama sambil mencari kerja yang cocok untuk aku.


Tapi—itu sebulan yang lalu.


Sekarang—


Aku kembali kerumah aku—home town­ aku. Semarang, kota panas yang entah mengapa berhasil membuat aku selalu kangen dengan kota tempat aku dibesarkan ini. Sebenarnya, tujuan aku pulang adalah untuk mengurus surat-surat yang diperlukan untuk melamar ke ‘Kau-Tahu-Apa’ yang saat ini hampir seluruh departemen dan bidang sedang dibuka untuk menerima pegawai baru. Tapi, ternyata aku ada panggilan untuk interview senin besok ke sebuah perusahaan ternama di Jawa Tengah—ga menyangka, tapi patut dicoba juga, siapa tahu rejeki saya disana.


Hanya saja—


Two years with my parents its make me not easy when I must live in Semarang without them. Secara aku anak yang manja, dan apapun yang terjadi pada aku, mama selalu tahu, dan aku selalu cerita mama. Memang sih, awal kuliah di Bandung dulu, aku hanya tinggal sama babeh, dan itu mampu membuatku mandiri. Tapi setelah mama ke Bandung dan memutuskan untuk menemani Babeh untuk menyelesaikan study S3-nya, aku jadi kembali seperti anak kecil lagi, jadi serba tergantung sama mama—dan dampaknya aku rasakan sekarang. Sudah hampir seminggu aku tinggal dikotaku sendiri, di Semarang—dan entah mengapa ini terasa berat bagi aku.

Pagi hari, biasanya aku belanja sambil berjalan kaki dan menikmati suasana Bandung di pagi hari, tapi kini aku berkeringat karena gerah dan mendapati isi rumah yang berantakan dan harus segera menyiapkan sarapan untuk dua adikku. Kemudian, jika di Bandung aku biasa bantu mama masak sambil ngobrol dengan mama, sekarang aku harus masak sendiri tanpa teman ngobrol, karena aku dirumah sendiri, dua adikku sudah pergi untuk sekolah dan kuliah. Kemudian, di Bandung, tugas nyuci baju adalah Babeh,dan aku tanggung jawab perkara belanja, cuci piring dan beres-beres rumah, tapi kini, mulai dari teras rumah hingga ruang cuci baju, jadi tanggung jawab aku..wew—


Lalu, apa aku menyesali hal ini? Apa aku mengeluh?


Anehnya, Tidak!


Aku mencoba untuk menikmatinya, karena hal itu adalah kesibukan aku, aku ga bisa menganggur tanpa kerjaan atau kegiatan yang menyita tenaga atau pikiranku. Dan aku tipe yang ga bisa kesepian. Jadi, hal-hal seperti masak, beres-beres rumah, cuci baju menjadi kesibukanku—atau lebih tepatnya pelarian aku. Karena, aku ga mau ada pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan meracuni pikiran aku, terlebih ‘Dia’ saat-saat seperti ini sedang sibuk-sibuknya dan susah untuk diganggu. Aku tak banyak berharap untuk hasil interview besok pagi, aku hanya berharap yang terbaik dari Zat yang telah menciptakan aku, Allah SWT.


Hidup jauh dari orang tua memang berat jika dirasakan, dulu saat di Bandung, meski aku sedang ‘cekak’ keuangannya, tapi aku tidak merasa khawatir, karena ada orang tua, tapi kini di Semarang, aku harus pandai-pandai mengatur uang untuk bisa hidup disni yang ironisnya ini adalah kota dimana aku dibesarkan.

semoga saja, semua usahaku sejauh ini menghasilkan hasil yang terbaik dari Allah, ini semua demi mama, babeh dan dua adikku serta orang-orang yang sudah banyak berkorban untuk menolong keluarga ini. Allah, just give me the best for my life and my future.

Label:

XOXO;
20:17

♥ send me flower? (0)


~Good bye my Buddy :(~
Minggu, Juni 28, 2009
16:06






Abel Always be there, beside me, when i need it.
Abel always wake me up, when i slept so much..

Although it was a cat, but it means so much for me..


Yeah, meski cuma seekor kucing ras campuran, but—dia berarti buat saya.. Abel yang selalu masuk kamar tiap subuh tiba buat bangunin saya.. tidur di kaki saya saat saya merasa kesepian, dan main dengan saya saat saya butuh hiburan..—saya tidak berlebihan, tapi memang hampir semua kucing yang saya miliki dulu, bisa mengerti saya. Kiko, contoh real nya. Tapi kali ini, Abel tidak seperti Kiko. Dia pergi dengan berpamitan, di pangkuan saya.. *sob*


I never thought I'd need you there when I cry
And the days feel like years when I'm alone
And the bed where you lie
Is made up on your side

Pernahkah anda memiliki seekor kucing yang bisa mengerti anda? yang bisa merasakan kasih sayang anda? Dan setia pada Anda? Dan pernahkah anda merasa betul-betul kehilangan kucing anda saat dia pergi?karena saya pernah merasakannya—termasuk saat ini—

Jangan bilang saya lebay, tapi sejak di Bandung, sejak di rumah kontrakan saya ini, teman yang sering buat saya tertawa dan merasa terhibur ya kucing yang saya pelihara, mulai dari mendiang Caty, kemudian Kiko yang pergi tanpa pamit, Zimba yang juga harus di buang karena sisi negatifnya dan kini Abel, seekor ras campuran yang pergi untuk selamanya—


sedih, eh? Pastinya—maksud saya,besok pagi disaat subuh, saya tidak akan mendengar langkah ke empat kakinya memasukki kamar saya, mendengar keributan yang dia perbuat, mendengar dia mengeong meminta makan, melihat tingkahnya yang selalu menggigit, mencakar dan mengejar apapun yang bergerak di dekatnya—tidak bisa lagi—dia kini terbaring kaku, di dasar kegelapan, dingin, hanya diselimuti selembar kain—


Salah saya—karena saya, dia kini terbaring kaku—tak bernyawa. Tiga hari terakhir, saya kurang memperhatikannya, bahkan saat gejala penyakitnya muncul, saya masih menganggapnya tidak masalah..tapi kini—semua terlambat. Saya tidak menyadari dari awal jika dia tersiksa dengan rasa sakitnya..
Dia masih sempat memberikan saya kesempatan untuk merawatnya, disaat-saat terakhir.. dan saya masih menerima cakarannya dia semalam, tadi pagi, hingga siang tadi saat dia menghembuskan napas terakhir, di pangkuan saya—

Menangis? Pastinya, tapi saya sadari, yang mati tidak akan hidup lagi. Meski saya sempat tidak mempercayainya, Abel pergi—untuk selamanya. Ibu menuntunnya, terus mengucapkan asma-asma Allah untuk mengantarkan kepergiannya.. Dia sempat menghampiri saya saat saya sedang mengaji dan duduk di dekat saya. Tak menyangka, jika saat itu, dia akan berpamitan untuk pergi selamanya—

When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too
When you're gone
The 'Miauw' I need to hear to always get me through the day
And make it OK
I miss you

Menyesal tiada guna. Toh ibu bilang, itu yang terbaik buat Abel, daripada dia tersiksa menahan sakitnya.. Abel udah pergi, udah tenang di Surga, dan itu lebih baik untuknya, itu yang terbaik dari Allah untuknya. Saya pasti akan merindukkan saat-saat dia ada di dekat saya, saat-saat dia menggigit dan mencakar tangan saya, saat-saat dia bermain dengan Babeh dan ibu tiap pagi dan malam—saya pasti kangen sama Abel.

Good bye my buddy—

Good bye my beloved cat—

I'm so sorry, i'm not the good mate for you, i'm so sorry—

Rest in Peace, Abel—


Credit Song to : Avril Lavigne - When You're Gone

Label:

XOXO;
16:06

♥ send me flower? (0)


~Kuliah itu seperti main Game~
Rabu, Februari 18, 2009
17:14


Kok bisa? Heum, baca saja dah heuheuheu.

Pagi tadi, sebelum masuk kuliah Manajemen Proyek, saya sedang duduk-duduk bareng temen-temen sekelas, ngobrol yang lagi ‘Hot’ aja, TA/Skripsi. Mulai dari curhat masalah Judul, terus sampe sekarang ada yang masih bingung belum dapet tema TA-nya, terus curhat masalah Proposal, bayar TA, bimbingan ke dosen, siapa pembimbingnya, yea seperti itulah kira-kira. Ditengah-tengah ngobrol nih, lewat senior yang baru aja selesai Sidang beberapa minggu lalu dan dia lagi ngurus-ngurus pasca Sidang, saya lupa dia lagi ngurus apa gitu, langsung saja, teman saya minta dia cerita seputar TA. Hohoho, jadi deh, wilayah depan ruang Dosen LB buat ajang Tanya jawab sama senior seputar TA.

Pertama, Tanya gimana buat Proposalnya. Sampai minta contoh proposalnya. Then, Tanya seputar gimana bimbingannya, terus Tanya seputar gimana Seminarnya, terus Tanya seputar gimana Sidangnya. Saya yang ikut heboh Tanya-tanya ke dia jadi ikutan stress mendadak. Gimana enggak ya, denger cerita dia kalau TA benar-benar melelahkan, padahal dia studi kasusnya di Bandung, dan dia berat badannya turun sampe 8 Kg. Wah, sepertinya memang benar ya TA itu benar-benar menyita segalanya, ya waktu, tenaga, pikiran, uang, sampe berat badan wakakakak. Sempat cerita juga kalau ada yang pingsan waktu siding kemarin. Wajar juga ya, secara sudah capek pikiran dan tenaga, mungkin juga si pingsan itu sampai begadang, lupa makan, jadi kondisinya ga fit, denger-denger juga ada yang sakit pas Seminar. Wah, faktor kesehatan benar-benar faktor yang fatal disini. Badan harus benar-benar dalam kondisi Fit dan stamina juga haru dijaga *inget diri yang sering telat makan kalau udah berkutat dengan komputer dan tugas*.

Nah, apa kaitannya sama judul post kali ini?

Senior saya tiba-tiba nyeletuk gini :” Dibuat kaya maen game aja deh. Jangan dibawa pusing atau stress.”

Pertamanya ga ngeh saya pas denger itu, atau mungkin karena otak saya yang lagi lemot jadi lama mikirnya. Terus setelah dicerna dan denger kelanjutan cerita dari senior saya, saya manggut-manggut setuju sambil senyum-senyum. Bener juga kan. Kuliah ibarat maen game, dengan catatan, ini untuk yang benar-benar ‘kuliah’ dalam arti sebenarnya, bukan kuliah yang nama dia ada dalam daftar absen, tapi ga jelas kemana orangnya dan tau-tau nongol minta UTS atau UAS. Semester 1, ibarat level 1, masih dibilang nyantai, enggak banyak beban, masih bisa disambi sana-sini, *meski kenyataan saya malah menyibukkan diri dengan kuliah jadi kelewat rajin wakakakakak* terus sampe semester 8, ibarat level 8 atau level hard. Waktu semakin sempit, tapi udah harus selesai. Jadi seperti main game yang berbasis waktu, seperti main Super-Bounce-Out. Makin tinggi levelnya kan makin sempit waktunya, makin susah juga mainnya. Sama seperti kuliah, semester 8, meski jumlah sks di tempat saya ada 14sks, dan saya hanya masuk kuliah tiga kali dalam seminggu *Senin 2 matakuliah, rabu 1 matakuliah* dan sisanya saya ngerjain TA. Nah, sisanya itu, saya yang nantinya *mudah-mudahan diterima proposalnya* bolak-balik Purwakarta-Bandung juga harus mempertimbangkan konsekuensinya, selain bimbingan dan studi kasus dilapangan, saya juga masih harus bimbingan dengan dosen pembimbing saya, belum lagi, saya juga butuh waktu untuk mengerjakan apa yang harus saya kerjakan, belum lagi, saya harus memperdalam Visual Basic dan SQL Server 2000/2005 dan pelajari Client-server. Ahahaha, saya ga mau bayangin tuh, mendingan langsung dijalanin saja. Semoga saja bisa, dan saya yakin bisa *Semangat 45*

Jadi benar adanya, kalau kuliah itu ibarat kita sedang main game.Dibawa seperti main game aja, jangan dibawa pusing, meski saya akui, saya sering stress sendiri ndak karuan, malah kadang nangis gara-gara ga ketemu solusinya *inget sabtu lalu yang ngabisin waktu 4 jam lebih buat cari solusi perhitungan ganda dan nyaris mau nangis-tapi untungnya akhirnya ketemu heuheu* So, buat kamu-kamu yang sedang senasib seperti saya *berjuang dalam Tugas Akhir dan menyelesaikan Kuliah baik S1 S2 atau S3* Mari berjuang! Semangat menyelesaikan Tugas Akhir!! GANBATTE!! Dan—jadikan kuliah seperti main game saja, oke? ^^

Label:

XOXO;
17:14

♥ send me flower? (1)


~Journey of My Life - Side Story~
Minggu, Februari 15, 2009
09:43


(Judul ga jelas gitu, wakakakak)

Well, begini,


Unek-unek aja sebetulnya, karena saya tahu, ga akan ada orang yang mungkin mau denger cerita saya, ya saya pilih buat nulis aja. Ga peduli orang mau baca atau enggak. Jadi kalau emang ga mau dibaca, lewati saja bagian ini, baca yang lain ^^.

Saya, Cuma seorang anak dari ayah dan ibu yang hidup dengan sederhana—bukan berarti saya banyak duit dan hidup sederhana, tapi saya emang benar-benar hidup ‘sederhana’; ngerti kan?

Dulu, kehidupan keluarga saya benar-benar mapan—bisa dibilang mapan banget, tiap liburan pasti pergi keluar kota, nginep di Villa ataupun Hotel yang bisa dibilang berkelas. Tempat liburan juga ga main-main—but itu dulu, masa kecil saya, yeah kira-kira sampe saya SMP. Tiap ulang tahun, baik saya ataupun adik-adik saya, pasti makan malam keluar. Babe ma Ibu saya waktu itu Alhamdullilah banget punya penghasilan lebih dari satu sumber, meski Babe Cuma seorang Dosen dan Ibu Pegawai serta Penyiar salah satu radio di kota Semarang. Waktu itu, Allah benar-benar menguji keluarga saya dengan berlimpahnya harta dan kekayaan.

Krisis moneter, masih inget kan? Yeah, Keluarga saya termasuk yang merasakan dampak dari Krisis Moneter, atau memang hal itu sudah ada dalam skenario kehidupan, Babe mulai berhenti jadi dosen luar biasa dari beberapa Universitas, baik Semarang dan Yogyakarta karena harus sekolah lagi. Ibu, usaha Cateringnya di rumah mengalami penurunan. Sudah banyak pesaing catering di komplek perumahan tempat tinggal keluarga saya, dan sayangnya pesaing-pesaing itu lebih kreatif dan inovatif dari pada ibu saya. Meski tidak dipungkiri, saat itu, kantin Ibu di Universitas tempat Babe mengajar mengalami kemajuan pesat, dan Alhamdullilah omset tiap harinya tinggi. Jadi, pada saat itu pula, kami sekeluarga hanya bergantung dari pendapatan Babe mengajar dan Kantin ibu, karena Radio tempat ibu bekerja mengalami Bangkrut dan kali ini sudah tidak mengudara lagi. Waktu itu, saya masih belum merasakan dampaknya—SMA, dan yeah, saya masih bisa saving money dalam jumlah yang tidak sedikit, bisa dibilang, tabungan masa SMA saya itu jumlahnya besar, jadi saya tidak merasa kekurangan.

Meninggalnya adik saya, itu tamparan besar atau bisa dibilang pecutan yang sangat menyakitkan bagi keluarga saya. Ibu saya terutama. Adik saya, satu-satunya anak yang benar-benar mengerti keadaan orang tua, satu-satunya anak yang sangat peka dengan keadaan lingkungan, dan satu-satunya anak yang merupakan ‘Malaikat’ bagi keluarga saya. Dia pergi, dan saat itulah, keluarga saya mengalami perubahan hidup. Lebay? Tidak sayangnya—ini benar-benar saya rasakan. Belum lagi saat saya kelas 3 SMA, dan menjelang akhir tahun ajaran—Babe masuk rumah sakit. Gejala Stroke Ringan. Blimey. Saya benci rumah sakit—atau lebihnya, saya takut untuk kembali kerumah sakit, setelah adik saya, dimana saat dia dibawa ke rumah sakit, tersiksa di bangsal ICU, saya takut—benar-benar takut! Waktu itu, benar-benar cobaan untuk kesekian kalinya bagi keluarga saya. Alhamdullilah, Babe sembuh. Meski tahun berikutnya masuk rumah sakit lagi karena kambuh. But, Allah masih sayang sama Babe saya, Beliau kembali sembuh, dan sejak itu, kakak Babe saya yang notabene seorang Dokter, benar-benar menjaga kesehatan Babe saya, meski sudah sejak pertama kepulangan Babe dari rumah sakit, beliau benar-benar menjaga dan terus memeriksa kesehatan Babe saya. Syukur Alhamdulillah memiliki keluarga seorang Dokter, jadi untuk masalah Obat dan Pemeriksaan, terasa lebih ringan, mengingat biaya pengobatan dan Check Lab itu tidak murah.

Kuliah. Saya putuskan untuk kuliah di Bandung , dengan tujuan semula—menjaga dan merawat Babe saya yang masih harus menyelesaikan Study Prodi S3-nya di Universitas terkemuka di Bandung. Alhamdulillah, Beliau mendapat beasiswa dari pemerintah—Babe saya suka kuliah ^^. Masak. Pertama kali dalam hidup saya, saya memasak—benar-benar memasak sendiri dan pencicip pertama adalah Babe saya. Lucu. Masakan pertama saya benar-benar ga jelas rasanya, but, Babe saya tidak banyak bicara, meski dihabiskan, saya tahu, masakan itu kurang lezat, tidak selezat ibu saya kalau memasak. Saya tidak menyerah, tetap belajar masak, dan Alhamdulillah, sekarang saya sudah bisa masak, meski belum bisa memasak berbagai jenis masakan, tapi setidaknya jenis masakan rumah sudah bisa.

Awal kuliah, hingga semester 3, saya tidak merasakan kekurangan apapun, uang saku bulanan ada, dan terkadang saya dapat uang saku tambahan dari kakak2 Babe saya yang tinggal di Jakarta. Bandung—Jakarta dekat, apalagi sekarang sudah bisa via toll. Tapi, masuk semester 4, hidup saya berubah, kantin ibu mengalami penurunan pesat dan kini omset sehari hanya bisa balik modal, malah terkadang merugi. Saya mulai merasakan bahwa kuliah itu mahal, atau lebih tepatnya, hidup itu keras, tidak semudah yang dikira. Saya yang notabene kuliah dibiayai bukan dari orang tua saya sendiri, tetap saja dapat merasakan susahnya hidup. Uang saku bulanan, jadi jarang dikirim ibu saya, maka dari itu, saya hanya berpegang uang dari Babe dan terkadang uang saku tambahan dari keluarga Babe saya. Semester 5, Alhamdulillah, saya dapat beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dari kampus tempat saya kuliah, selama satu tahun. Meski salah satu anggota keluarga sepupu saya tetap membiayai kuliah saya dan berpesan agar uang beasiswa bisa untuk dibelikan buku-buku kuliah atau sarana penunjang kuliah saya atau bahkan bisa membantu untuk membiayai sekolah adik-adik saya.

Sekali lagi, kuliah itu tidak murah. Buku-buku kuliah saya terutama, saya memang termasuk orang yang tidak puas dengan hanya satu buku, dan terkadang, untuk satu subjek mata kuliah, saya pasti cari lebih dari dua referensi. Sekali lagi, buku-buku itu tidak murah dan untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Tapi Alhamdullilah, selalu saja ada cara yang diluar dugaan untuk mendapatkan buku-buku itu. Kakak sepupu saya, beliau satu bidang dengan saya, meski beliau lebih ke Manajemen-nya sedangkan saya ke Tekniknya. Sampai sekarang, buku-buku itu banyak membantu saya, untung bagi saya yang memiliki kakak sepupu dan kakak ipar yang sebidang dengan saya. Memang benar, memiliki banyak saudara itu memiliki ruang yang luas untuk sumber pengetahuan, pekerjaan dan apapun yang dibutuhkan.

Semester 6, tepatnya setahun yang lalu. Ibuku pindah ke Bandung, sempat buka kantin di salah satu Universitas di Bandung, karena kantin di Semarang sudah tidak bisa diharapkan lagi. Dan, Allah berkehendak lain, ternyata kantin tersebut sama nasibnya dengan yang di Semarang. Ibu, yang sudah tidak bekerja dan mengandalkan usaha kulinernya, memutuskan untuk membuka warung makan di rumah kontrakan yang saya, babe saya dan ibu saya tempati saat ini. Bulan pertama buka, Alhamdullilah, banyak yang membeli, belum lagi, depan rumah dan samping rumah merupakan kost-kost-an. Dan mereka teman sekampus saya. Malu? Ahahahah. Kalau saya Malu, saya pasti tidak mendukung ibu saya untuk berjualan sejak pertama kali dulu di Semarang. Halal. Itu prinsip keluarga saya. Selama itu Halal dan layak, kenapa tidak. Dude, sekarang cari pekerjaan itu susah, kalau tidak kita sendiri yang berusaha untuk menciptakan lapangan kerja sendiri , ya kapan lagi untuk bisa mendapatkan penghasilan?

Teman-teman sekelas saya, terutama teman satu kelompok saya, suka ‘jajan’ juga di tempat saya. Alhamdulillah, saya memiliki teman seperti, Joe, Putra, Indra, Ligard, Agung , Adiea dan sekarang Dian. Mereka tidak mengolok-olok saya saat mengetahui ibu saya penjual nasi, meski, Babe saya seorang calon doctor. Ha. Hidup memang penuh kejutan, dude. Siapa yang bisa mengira kalau keluarga saya seperti ini sekarang? Sekali lagi, cobaan itu tidak akan pernah berhenti, teman. Selama kita hidup, cobaan itu tetap datang.

Lucunya, banyak yang ga percaya kalau saat ini kondisi keluarga saya tidak seperti dulu lagi. Teman-teman saya yang lain, masih mengira saya ini orang kaya, dan ibu saya masih kerja kantoran. Ahahahah. Tertipu mereka, atau memang mereka tidak mengerti dan menyadarinya ya? Saya tak mau ambil pusing, jika setelah mereka tahu keadaan keluarga saya dan malah menjauh atau menghina saya. Dude, hidup bukan untuk mencari siapa temanmu. Dan itu berarti, mereka bukan teman yang baik untuk saya.

Saya syukuri keadaan saat ini, apalagi jika saya mengingat kembali penggalan cerita ataupun nasehat dari kakak Babe saya. Kalau tidak melewati fase kehidupan seperti ini, kalau saya tidak mengalami kehidupan seperti ini dan selamanya hidup dalam “Zona Aman” Saya tidak akan pernah belajar untuk menghargai tiap sen pendapatan, saya tidak akan pernah belajar menyukuri tiap detik kehidupan dan tiap kenikmatan ataupun cobaan dari Allah. Masuk dalam “Zona tidak aman” benar-benar membuat saya berubah, teman. Dulu, seribu rupiah—eh tidak, tapi lima ratus rupiah, tidak berharga bagi saya, tapi kini, SERATUS rupiah, sangat berharga bagi saya. Lucu? Aneh? Bagi saya tidak. Karena saat ini, untuk mencari seratus rupiah merupakan usaha yang besar bagi keluarga saya. Mengingat ternyata warung makan di rumah kontrakan Bandung mengalami penurunan pendapatan. Tapi tetap saja, Rezeki, nikmat dan cobaan dari Allah, itu memang pasti datang dan seringkali datang pada saat yang tidak terduga. Universitas tempat Babe belajar, disitulah saat ini sumber rezeki ibu saya. Beberapa teman kuliah Babe berlangganan masakan ke Ibu saya. Kadang Dosen Babe saya juga pesan masakan. Sudah sebulan ini, beliau-beliau lembur dikampus dan pesan makan malam ke Ibu saya, bahkan tak jarang, ‘Jajanan’ buatan ibu saya, kerap habis tiap harinya. Dan terkadang beliau-beliau pesan snack untuk arisan ataupun acara keluarga. Selain masakan, ibu saya juga menitipkan Snack disana. Kadang 20 buah habis, kadang meski menitipkan 10 buah, Cuma laku 3 buah. Itu semua usaha untuk mencukupi kebutuhan hidup 2 rumah tangga, rumah semarang yang ditempati dua adik saya, dan rumah kontrakan di bandung yang ditempati saya dan kedua orang tua saya. Jangan pikirkan bagaimana bisa tetap bertahan hanya dengan pendapatan dari Kantin, jualan nasi, dan gaji dosen terbang Babe saya. Rejeki Allah, selalu datang dari tempat yang tidak terduga, itulah kuncinya^^.

Tahun terakhir kuliah saya, dan Alhamdullilah kembali mendapatkan beasiswa, yang tadinya PPA, kini menjadi BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa). Prestasi belajar saya menurun, dan mungkin tingkat seleksi dari kampus, saya masuk kategori mahasiswa kurang mampu—entahlah, tidak mengerti dengan hal seperti itu. Dari beasiswa tersebut, Alhamdullilah, saya bisa melengkapi sarana belajar saya. Meski saat memasukki semester akhir ini, saya benar-benar kebingungan dengan kondisi saya dan situasi kuliah saya. Tugas akhir saya, ternyata membutuhkan biaya yang cukup banyak—benar-benar tak menyangka. Biaya TA yang dirasa tidak sedikit, kemudian, karena saya study kasus ke luar kota, jelas membutuhkan biaya untuk kost disana, dan biaya untuk perjalanan pulang pergi Bandung-Purwakarta. Kemudian, satu ini yang benar-benar membuat saya bingung. Laptop—beneran saya butuh benda ini. Saya nantinya sering kerja dilapangan, karena saya ambil studi untuk developer, membangun perangkat lunak baru untuk membantu memecahkan masalah di perusahaan tersebut, saya membutuhkan Laptop. Ga mungkin saya wira-wiri membawa komputer saya kan? Dan FlashDisk atau sejenisnya, bukan jalan keluar maksimal. Yeah, kuliah memang mahal. Tapi saya yakin, semua ini ada jalan keluarnya. Saya hanya ingin cepat menyelesaikan S1 saya, dan segera membantu keluarga saya. Saya anak pertama, dan meski tidak diminta, saya punya kewajiban untuk mengangkat derajat adik-adik saya, masa saya bisa sampai S1 adik-adik saya tidak bisa?

Jadi, ini Cuma unek-unek saja. Saya tidak bermaksud apa-apa. Cuma pengen cerita saja, biar nanti kedepaannya, tidak ada yang salah sangka lagi. Karena belakangan, banyak yang mengira kami adalah keluarga kaya raya yang sok miskin. Tapi kenyataannya, seperti inilah kami ^^. Tidak mengada-ada, karena memang tidak ada yang diada-adakan. Kehidupan itu memang penuh misteri, bahkan sampai sekarang, misteri-misteri itu selalu berhasil membuat saya terkesima dengan kebesaran Allah SWT.

Harapan saya, setelah Babe saya lulus kuliah, dan saya juga lulus kuliah, saya bisa membantu keluarga saya dan mulai membenahi hidup keluarga saya. Setidaknya, sudah waktunya ibu saya untuk menikmati sisa hidupnya dalam ketenangan, beliau ingin sekali menulis sebuah buku, tapi sampai saat ini, belum ada waktu untuk menulisnya, karena itu tadi—sejak bangun tidur hingga tidur lagi, sibuk memasak untuk mencari penghasilan, dengan bantuan saya tentunya. Saya ingin Ibu saya bahagia, saya ingin terus melihat senyum ibu saya. Jika memang, ibu saya tetap ingin meneruskan usaha Rumah Makannya, saya ingin, beliaulah yang memantau saja, bukan terjun langsung kelapangan. Dan untuk Babe, saya ingin beliau tetap mengajar dan membagikan ilmunya kepada masyarakat, dan jika Allah mengijinkan, saya ingin Babe saya bisa studi kasus keluar negri, seperti selama ini yang Babe impikan. Diluar itu semua, Semoga saja, masih bisa diberi kesempatan untuk menuaikan Ibadah Haji ^^—Amin.


Pesan dari cerita unek-unek saya ini. Buat kau yang saat ini masih ada di “Zona Aman” Hargailah, nikmatilah, selagi kau bisa, tapi jangan terbuai, karena Roda Kehidupan itu benar-benar ada. Hidup itu keras, teman. Tapi tinggal bagaimana kita menghadapinya, bagaimana kita menjalaninya. Allah tidak akan berpaling dari umatnya, meski umatnya berpaling dari-Nya. Mintalah pada-Nya, mengadulah pada-Nya, hanya Allah yang bisa, Hanya Allah yang mampu, jangan ketempat lain. Cuma Allah! Keluarga kami sudah membutikkan kebesaran Allah. Kalau bukan kehendak dan kebesaran Allah, mungkin saat ini, kami sudah hidup di jalanan. Ingat, semua karena Allah. Itu saja. Gezz, saya masih bisa makan Ayam, itu benar-benar kenikmatan dari Allah. Saya masih bisa telpon-telponan pake HP, Ngenet pake HP dan nebeng Ngenet gratis di kampus tempat saya kuliah ataupun kampus tempat babe kuliah, itu benar-benar nikmat dari Allah, dan saya Flu dan Batuk saat ini, itu juga nikmat dari Allah. Semua hal, itu ada hikmah dibaliknya. Meski terkadang dan malah sering, saya telat untuk menyadarinya.

Akhir kata. Hargai hidup teman. Hargai semua detik, sen, atau satuan apapun dalam kehidupanmu, nikmati apapun pemberian dari Tuhan. Jalani hidupmu saat ini dengan penuh syukur kepada Allah. Saya sendiri sedang berusaha untuk itu, jadi mari kita bersama-sama untuk berusaha menghargai apapun dalam hidup kita, oke? ^^

Salam.

Label: ,

XOXO;
09:43

♥ send me flower? (1)


~Zimba~
Kamis, Februari 12, 2009
15:53



"Lihat dia, lucu kan?" Seru adikku sembari memamerkan kucing kecil berbulu oranye ke arahku.

"Wah, mirip Kiko, tapi yang ini lebih gagah kalau jalan." Ibuku tampak senang memperhatikan langkah kecil kucing itu.

Aku terdiam. Hanya memandang kucing itu—terdiam. Tidak peduli tepatnya. Aku sudah punya Kiko, dan selama ini, Kiko yang terbaik—iyah, terbaik dari yang pernah ada. Memang, warna bulu kucing itu mirip dengan Kiko, tapi tidak dengan bentuk badaanny, tidak dengan bentuk matanya. Aku lebih menyukai bentuk mata Kiko yang bulat sempurna dan tampak lucu jika malam hari. Kiko berjalan memasukki dapur. Dengan cepat, aku menggendonggnya dan memberikan belaian saying pada kucingku ini. Kiko terdiam, dan terpejam matanya.

Saat itu hujan, dan aku sedang duduk bersama Ibu dan keluargaku di Dapur—sore hari. Aku baru saja sampai di Semarang dini hari tadi, sempat tertidur juga karena kecapaian, tapi sore ini sudah mendingan. Ibu dan adikku masih ngobrol seru dan menceritakan tingkat Coki, kucing adikku yang satunya saat dia di Bandung. Aku masih diam mendengarkan mereka berdua. Kiko kini terbangun dan menggeliat ingin melepaskan diri dari pangkuannku. Aku biarkan Kiko pergi, dan kini tatapanku kembali ke kucing kecil, penghuni baru dirumah ini—dia sedang makan saat ini. Yeah, dia memang lucu—dan catat! Lucu untuk ukuran kucing kecil, itu saja.

Aku sudah mengantuk, masih hujan, meski tidak sederas tadi sore. Capek. Itu yang aku rasakan saat ini. Aku memilih tidur cepat malam itu. Aku biarkan Kiko tertidur disebelahku, mungkin dia juga kecapaean. Perjalanan panjang, pastinya capek. Aku tidur.

”Mana Kiko?”

Pukul 8 pagi, dan yang aku pikirkan hanya mencari Kiko. Kau tahu? Dia belum makan apapun sejak kemarin tiba di Semarang. Aku khawatir. Adikku mencoba untuk menenangkan aku. Aku hanya terdiam saja. Kiko kucing pintar, dia pasti pulang, lagipula hujan diluar; tak mungkin dia tidak pulang kan? Iya kan?

Sore hari, abang-abangku datang. Oh, kau belum mengenalnya? Baiklah, aku ceritakan sedikit. Mereka tadinya teman-teman aku dalam satu Band. Yeap, aku pernah ikut main Band—hahaha, kenangan yang benar-benar membuat aku kangen untuk kembali ke masa itu. Taz, mas Adi, Mas Ranu, Mas Bara, Mas Anton dan satu lagi—Gezz aku lupa namanya. Taz, Aku bertemu dengannya waktu aku ikut Jambore Nasional 2001 di Baturaden. Sedangkan sisanya, aku bertemu mereka melalui Taz, saat aku dimintai tolong untuk menjadi Keyaboardtis. Oke—masa lalu, dan Band itu sudah tidak ada—tapi kami tetap ada, dan kemarin aku berkumpul bersama mereka. Gezz, sudah banyak perubahan dari mereka, bahkan, abangku, Mas Bara, akan menikah bulan ini. Oh baiklah, sebaiknya kembali keceritaku tadi. Aku lupa jika Kiko belum pulang, aku terlalu asik bermain bersama abang-abangku ini. Sampai malamnya, kira-kira pukul 11 malam kurang, aku menyadari, Kiko belum kembali. Aku panik, setengah ingin menangis. Aku tahu dia belum makan, jadi harusnya dia ada di rumah saat ini. Tapi Kiko tidak ada—Tidak—dia menghilang!

”Kiko belum pulang?” Tanyaku kepada Ibu yang sedang sibuk di dapur, sudah siang hari, dan sudah 36 Jam lebih Kiko belum kembali. Ibuku menggeleng saja, aku lemas. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Besok aku sudah harus kembali ke Bandung, tapi Kiko belum menampakkan batang Hidung ataupun batang ekornya.

Dimana kucingku? Mana Kiko? Aku terus bertanya-tanya dalam hati, mencari sosok Kiko, bahkan aku nyaris masuk ke kebun depan rumahku, kebun yang selalu membuat aku merinding—trauma akan lemparan bola-tanah-liat entah dari arah mana saat aku kecil dan bermain di tempat ini. Aku me-na-ngis! Blimey! Apa Kiko memilih untuk pergi dari keluarga ini? Memilih untuk bebas? Memilih untuk melepaskan diri dari aturan keluarga ini dan hidup bebas di luar sana? Tapi apa dia bisa? Maksudku, Kiko tidak pandai berkelahi—dan aku tahu pasti itu. Meski dia itu kucing pintar, tetap saja, dia tidak pandai berkelahi. Ini salahku, aku tidak mengajarinya bagaimana cara berkelahi—Kiko kucing jantan, sudah pasti dia akan menghabiskan waktu dewasanya untuk berkelahi dengan kucing jantan lainnya memperebutkan kucing betina.

Aku diam di kamar, menyendiri. Tidak mungkin Kiko pergi begitu saja. Tidak. Dia pasti diambil orang. Kiko pintar, dia tau jalan pulang. Aku bersandar ke tembok, dan tiba-tiba kucing kecil itu masuk ke kamar dan memandangku. Aku balas memandangnya. Apa maunya kucing ini, eh? Sebentar, aku dan kucing itu saling pandang, kemudian dengan cepat, ia berbalik dan keluar kamar. Meninggalkanku. Bingung. Apa tadi? Oh tidak mungkin—benar-benar tidak mungkin. Maksudku, aku baru saja melihat kucing imut yang lucu—Hell! Mana mungkin? Maksudku, dia hanya seekor kucing kecil pemberian teman dekat adikku yang kini diberi nama Kucil-Zimba-atau-apapunlah itu. Dan aku menyebutnya kucing imut dan lucu? Blimey! Aku pasti gila. Kiko yang lucu. Mana mungkin dia lucu.

He—

Tidak mungkin kan—

Kiko pasti kemnbali! Aku yakin itu! Masih ada 24 jam lagi sebelum aku kembali ke Bandung—

Dan Kiko pasti kembali!



---Bersambung---



(OOT : Capek nulisnya, besok sambung lagi dah :D)

Label:

XOXO;
15:53

♥ send me flower? (1)


~~Keypad Sableng :|~
Rabu, Februari 04, 2009
16:57


Kejadiannya petang kemarin. HP saya lagi di charge, pas mau ngetik alamat perusahaan tempat saya studi skripsi dari email ke notepad saya, tiba-tiba keypad saya error. Waks! Beneran eror -.-"

Pertamanya saya diemin hp na dulu. Mungkin saya yang salah pencet. Tapi begitu pencet angka 3 sama spaci yang ada dilayar malah angka 2, waks! Panik, eh? Hoho. Belum. Saya buka hp nya. Mungkin keypad kotor kali. Yeah, dengan mencoba menenangkan diri saya bersihkan keypad hp-nyah. Trus diemin bentar. Masih dag-dig-dug takut kalu ada apa-apa sama hp saya * lagi ga pegang duit banyak soalnya-15rb didompet -.-"*.

Hp saya nyalain lagi. Saya coba lagi, hasilnya ternyata sama. Pencet 3 ma spaci yang ada dilayar malah huruf A. Jah--beneran dah ne keypad. Saya yang mulai panik, langsung bawa hp ke kamar ortu, lapor ke Babe ma Mum saya. Babe menanggapi dengan datar.

Babe : Konslet kali. Tadi kehujanan, kan?

Mum : matiin dulu aja, diemin bentar.

Saya : ga kehujanan kok, Be. Pan tadi hp di tas. Basah juga aku pasti tau. Tadi juga uda aku matiin mah hpnya. Tapi tetep aja eror lagi.

Babe+mum : Hp nya minta istirahat. 24 jam kamu pake terus buat OL. Ngambek tuh.

Saya : *speechless dan pandang hp dgn tatapan hampa*

mum : Udah, jual aja HPnya. Duitnya buat nambah beli laptop buat TA kamu tuh. Lumayan kan?

Babe : iya tuh. Daripada kamu kayak orang takut kehilangan HP. Wis ditaleni, dikalungke nang gulu, di pentelengi wae saben menit. Yo to? Wedi kelangan hp kuwi. = Uda di tali *gantungan Hp*, di kalungkan ke leher, di pantengin terus tiap menit. Iya kan? Takut kehilangan HP tuh.

Saya : *masih diam tanpa kata. Pindah ke kamar sendiri dengan lesu*

Begitu dikamar saya, saya bongkar lagi HP-nya, terus saya jembreng di atas monitor saya. Feeling saja, meski saya ga yakin apa bisa berhasil. Karena basah itu ga mungkin, kan ga kehujanan. So setengah jam kemudian, saya ambil dan nyalakan lagi. Tetep ga bisa. Saya kembali taruh di atas monitor lagi, saya tinggal sholat magrib, karena sudah waktunya sholat magrib. Kemudian setelah itu, saya nyalakan lagi.

Jeng jeng!
Saya tersenyum lega saat saya pencet angka 3 dan yang keluar huruf D lagi, bukan A. Spaci juga normal. Dengan berjingkrak kegirangan, saya pamer ke Babe sama Mum. Bilang kalau HP-nya udah baikan. Keypadnya udah normal. meski saya ga tau, itu apa penyebabnya. Dan Babe saya sama Mum cuma komentar singkat saja. "Makanya, Hp dipake seperlunya saja, bukan kayak orang takut kehilangan HP. Dipatengin terus 24 jam. HP juga minta istirahat." Ahahaha, saya hanya tersenyum masam dan kembali ke kamar. Kemudian saya kembali buka Yahoo mail saya untuk pindah alamat perusahaan ke notepad saya. But, tak lama keypad saya error lagi. Ga saya pencet tau-tau nulis sendiri dan keluar terus angka 5. Langsung saya matikan dan nyalakan lagi. Kemudian buka notepad, saya cek apa keypad error atau enggak, jadi saya ngetik angka 1-9 normal, tapi terus ngetik lagi sendiri. "jkl5jkl5jl5" begitu terus di notepad hp saya. Waks! HP saya kenapa lagi ini =___+ ?

Saya kembali ke kamar dan laporan ke ortu saya.

saya : Babe, error lagi keypadnya! *dengan wajah super panik karena terus nulis "jkl5jkl5jl5" di notepad saya*

Babe : keteken kali angka 5-nya. matikan bongkar lagi.

Mum : Paling masih kotor.

Saya langsung matikan HP dan buka kemudian nyalakan lagi. Dan masih sama. Angka 5 muncul terus dilayar. Waks! langsung saja saya tekan-tekan keypad saya. Utak-atik bentar dan tau-tau berhenti. Angka 5 ga muncul lagi. Saya diemin bentar sambil nonton TV di kamar ortu saya. Dan berharap-harap cemas. Beberapa menit kemudian. Saya pasang lagi Casingnya, dan sampai sekarang ga kambuh lagi tuh keypad.

Beneran, saya kemarin panik bukan main. Keypad sableng. Bikin orang panik saja. Coba kalau sampai rusak beneran, keluar duit dah saya. Meski ga tau duit dari mana nanti buat bayar tuh reparasi HP. Alhamdullilah ga ada apa-apa. Yeah, ini pelajaran buat saya. Bahwa HP juga punya perasaan mungkin, dia butuh istirahat, jadi sejak semalam, saya pasti matikan HP kalau ga dibutuhkan, dan sebisa mungkin ga sering OL lewat HP, meski ternyata saya ga bisa kalau Y!M saya ga OL meski cuma stand by saja. P-A-R-A-H juga yeah.. hohoho.

Label: ,

XOXO;
16:57

♥ send me flower? (6)


Beyond The Light : m.y.e.k.a
Life Journey : ~Paris Van Java~
Age : 22
School : finished.Quality is Our Tradition.
My First WEB : .my HP.
Abode : my residency
Facebook : Dian Myeka Kawai

Friendster : The Smart Myeka

Plurk.com


Love :
- Sun Flower (still, wish somebody give me this Flower ^o^)
- My Mom's Cake (yummy)
- RPG Potter's Freak, so ask anything about Harry Potter, i will tell u everything till you become freak like me '_'
- Clean and Clear
- Cat

Hate :
- Sombong
- Bohong (apalagi ini)
- Kotor (yang udah kelewatan)
- Liat kamar berantakan

Wishlist :
- Up Grade Kompie jadi 'Core 2 Duo'
- HP baru... Comunicator *PLakk*
- Laptop. Modal Kerja.
- Beliin Mom buku resep masakan yang lengkap

Links
~Harry Potter only~

  • Blog IndoHogwarts
  • HPI
  • RPG Indohogwarts
  • FS IndoHogwarts
  • HP-Lexicon
  • Harry Potter
  • HP-Bandung
  • Sorting Hat

    ~IH & HPI~

  • Jessica Shoemaker
  • Remus Lupin
  • Professor McGonagall
  • Professor Sprout
  • Mizuhime Winterfield
  • Jake Locksley
  • Claire Veela Zeus
  • Chinchilla Carasell
  • Flavarel Montez
  • Yusuke Sawada--PM
  • Yusuke Sawada
  • Karasuma Rei
  • Kadviol Stanley
  • Anjiro Fuma
  • Amy Allytrya
  • Recha McFadden & Phillipe Blance
  • Lily Evans
  • Miyu
  • Kane 'Dieto' Pavarell & Shezna Greyhaunt
  • Abay
  • Stevanie Oswald
  • Thy-Hinata
  • Marietta Skeeter
  • Atsuko Reiflein
  • Thirteen Laranayl
  • Eugene M.Aphrodite
  • Yukito Tsumi
  • Shaula Khan

    ~Teman-Teman~

  • Harry a.k.a Haka
  • Rumah Benih

    ~Another Important Link and Blog~

  • Ilham Akbar
  • Djatinangors
  • Indra Pramana
  • Wisata Indonesia
  • Baby's Care
  • Melatih Hewan
  • Archives
    November 2007
    Desember 2007
    Januari 2008
    Februari 2008
    April 2008
    Juli 2008
    Agustus 2008
    November 2008
    Desember 2008
    Januari 2009
    Februari 2009
    Juni 2009
    Oktober 2009
    November 2009
    Credits
    designer DancingSheep
    resources + + + + +
    edited
    Tagboard